Wednesday, 10 December 2008

Guru Favorit Menuju Profesional

Budhi A.M. Syachrun, S.Pd

Dua kata (favorit dan profesional) dari judul tulisan ini, mewakili dari nama perhelatan besar yang kembali diselenggarakan oleh salah satu media lokal di Sulsel. Setelah sukses melaksanakan empat kali kegiatan bernuansa Untukmu Guruku, tahun ini kembali diadakan perhelatan yang sama dengan memasukkan unsur profesional sebagai indikator dari kegiatan itu.
Ada sebuah dedikasi yang tinggi ditorehkan oleh panitia bahwa kegiatan tersebut merupakan salah satu upaya untuk turut mencerdaskan bangsa dan dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan. Tahun ini, proses pemilihan dimulai bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional dan 100 tahun Kebangkitan Nasional. Deretan kegiatan akan mewarnai perhelatan guru favorit dan profesional seperti, seminar dan lokakarya, penulisan karya tulis dan penulisan artikel mengenai pendidikan.
Kegiatan persembahan untuk guru ini seakan memberikan bukti nyata bahwa media tersebut sangat konsen dengan persoalan kualitas pendidikan, terutama dalam hal kapabilitas dari para guru yang ada di daerah ini. Kali ini guru yang akan berlomba, tidak hanya dituntut untuk menjadi favorit, tetapi lebih dari itu adalah mereka akan ditantang untuk menjadi guru yang profesional.
Sebenarnya masalah penilaian professional, sudah ditunjukkan oleh panitia pelaksana dalam kegiatan guru favorit versi pembaca dan siswa tahun 2007. Pada malam penganugerahan tersebut, ada tiga guru yang menjadi finalis dalam uji intelegensi. Dan yang tampil sebagai pemenang uji intelegensi adalah St Nurhidayah Ilyas, S.Pd (SD Pertiwi Makassar). Dengan gelar uji intelegensi itu, dia berhak mendapatkan juara umum karena di saat yang sama memperoleh dukungan Short Message Service (SMS) yang paling tinggi dibanding kontestan lainnya. Hadiah yang didapatkan adalah perjalanan ibadah umroh ke tanah suci.
Terlepas dari ajang itu hanya satu orang yang menjadi juara umum, setidaknya akan memberikan nilai tambah dan pengalaman berharga bagi 12 finalis guru dari tiga tingkatan. Tetapi agak sayang memang, pemilihan guru favorit tahun lalu tidak melihat nilai kualitas dari para guru, tetapi lebih condong kepada persoalan kuantitas. Memang ada penilaian dalam bentuk presentase makalah, tetapi itu dilakukan pada saat detik terakhir perhelatan . Sehingga secara umum, pembaca dan siswa tidak melihat secara langsung kompetensi dari guru yang akan didukung.
Ketika ajang yang sama dilaksanakan tahun ini, secercah harapan terpatri dibenak para guru untuk menjadi seorang favorit bukan karena dukungan SMS, tetapi mereka akan menyandang sebagai guru yang profesional dengan mengacu pada aspek penilaian dari panitia.
Oleh karena itu, kalau model dari perlombaan yang diselenggarakan tersebut dapat secara berkesinambungan dilaksanakan dengan menghadirkan bentuk variasi dan tidak semata berdasarkan dukungan SMS, kami yakin media itu akan menjadi rujukan dari para pendidik di daerah ini untuk dapat mengembangkan kemampuan dan kapasitasnya, bukan dalam bingkai guru yang hanya dikenang sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, tetapi pahlawan yang juga haus akan sebuah prestasi.

Favorit dan Profesional
Memang menjadi “seorang favorit dan profesional” dalam bidang apapun akan membutuhkan suatu loyalitas, dedikasi dan pengabdian dari gelar itu. Favorit dan profesional tidak hanya diukur besarnya dukungan SMS dan penilaian juri kepada kita, tetapi terlepas dari itu adalah bagaimana guru bisa bertindak dan menjadi teladan dari para guru lainnya. Kalau kelakuan guru akan sama saat yang bersangkutan sebelum dan sesudah menjadi “guru favorit dan profesional”, maka kita yakin gagasan mulia dari pemilihan ini sudah melenceng.
Ada keinginan tulus bahwa ketika status tersebut disandang, akan melahirkan suatu perubahan dalam diri kita. Termasuk didalamnya ada perubahan yang signifikan, terutama bagaimana menciptakan proses belajar mengajar. Jadi gelar yang didapatkan tidak sekadar menjadi bahan kelengkapan “berkas”, tetapi jauh dari itu, pemilihan guru favorit dan profesional akan melahirkan guru yang bisa berkompetisi, mempunyai kualitas dan bisa berbicara banyak bukan hanya dilingkungan sekolah, tetapi bisa berbuat yang terbaik pada ajang sejenis.
Memang pada dasarnya seorang guru dikatakan sebagai favorit dan profesional, banyak faktor yang menjadi acuan dan rujukan. Apakah yang kami sebutkan ini merupakan implementasi dari status itu, ataukah status favorit dan profesional hanya terkesan pada saat pemilihan ini, kami tidak bisa menyimpulkan tergantung dari sudut pandang pemahaman berpikir pembaca.
Dari studi yang pernah dilakukan ternyata dominan siswa menilai bahwa guru yang baik adalah (1) dapat dengan mudah mentransfer ilmu yang diberikan kepada siswa, (2) bersikap jujur dan adil kepada para siswa, (3) tidak menjadikan siswa sebagai objek penderita, (4) mempunyai wawasan luas, (5) berpenampilan rapi saat menyampaikan materi, (5) tidak kaku dan monoton dalam menyajikan bahan ajar, (6) bersikap terbuka dan menerima kritikan, (7) tidak bersikap diktator, (8) tidak pernah marah di depan siswa, (9) memiliki jiwa humoris, (10) dekat kepada siswa tetapi dalam bingkai sopan santun, (11) memiliki sejumlah kreativitas dalam proses belajar mengajar, (12) ramah dan gampang beradaptasi dan (13) guru harus memiliki loyalitas dan dedikasi.
Kalau melihat ketigabelas item diatas, pasti ada yang beranggapan bahwa masih banyak item yang tidak disebutkan. Ini hanya sekadar gambaran kepada kita bahwa menjadi yang terbaik tidak begitu mudah. Bisa saja guru hanya memiliki item pertama, tetapi tidak memiliki dan merasa menjiwai item selanjutnya. Ini tentu akan menjadi pembelajaran kepada para guru, bahwa status seorang pendidik membutuhkan suatu kerja keras.
Sekali lagi menjadi seorang guru untuk membentuk siswa yang “sebenarnya” itu tidak semudah yang dibayangkan. Kami bisa mengutip pandangan constructivism, bahwa otak seorang anak atau siswa pada dasarnya tidak seperti gelas kosong yang siap diisi dengan air informasi yang berasal dari pikiran guru. Otak anak tersebut tidak kosong. Otak anak berisi pengetahuan yang dikonstruksi anak sendiri, ketika anak berinteraksi dengan lingkungan atau peristiwa yang dialaminya.
Namun hingga sekarang, masih ada guru yang memiliki pandangan bahwa anak tidak memiliki pengetahuan atau gagasan tentang materi yang diajarkan oleh guru. Guru sering menampilkan diri sebagai sosok “mahatahu” yang tidak mungkin salah, sedangkan anak secara tidak sengaja, diperlakukan sebagai sosok “mahataktahu” yang tidak boleh salah. Hasilnya adalah kegiatan mengajar dimaknai sebagai kegiatan mengalirkan informasi dari kepala guru ke gelas kepala anak yang masih dianggap kosong.
Sedangkan menurut Dani Ronnie M dalam bukunya berjudul “The Power of Emotional & Adversity Quotient for Teachers, menguraikan bahwa guru yang mengajar tidak hanya masuk ke kelas, bertemu para pembelajar, menyuruh ini dan itu, kemudian keluar kelas dan pulang. Kalau cuma model itu menurutnya, orang tak perlu mengikuti pendidikan yang tinggi-tinggi atau training yang hebat-hebat. Semua orang bisa melakukan hal tersebut. Bahkan orang yang tahu sedikit baca tulis ditambah sedikit wawasan pun bisa melakukannya.
Pada dasarnya menurut Dani, seorang guru yang rendah hati, akan mengajar dengan santun dan sarat akan nilai-nilai etos. Hal inilah yang membuat setiap kata yang keluar dari mulutnya, setiap perilaku yang dia tunjukkan, setiap gerak geriknya, akan menjadi suatu keindahan. Kerendahan hati ini akan menautkan batin setiap individu yang ada di dalam kelas, dimana sebuah aktivitas belajar mengajar berlangsung. Hal ini akan menjadi tuntunan setiap siswa untuk mempersembahkan segala kebaikan dan kemuliaan dalam sebuah entitas manusia pembelajar.
Akhirnya, sebagai salah satu yang pernah merasakan ketatnya persaingan dari pemilihan sejenis tahun lalu, tentu berharap mereka yang terjaring dalam guru favorit dan profesional dapat menunjukkan eksistensi dirinya dimanapun berada. Menutup tulisan ini, mari kita simak ungkapan dari John Maxwell. “Jika anda terus melakukan apa yang selama ini anda lakukan, anda akan mendapatkan hasil yang sama”.

No comments: