Friday, 12 December 2008

Mengurai Model Kecurangan Ujian Nasional

Mulai Selasa, 22 April 2008 hari ini, para siswa SMA/SMK dan sederajat akan menjalani pelaksanaan Ujian Nasional (UN) dan akan berakhir pada Kamis 24 April mendatang. Ada enam mata pelajaran yang akan diujikan dan itu mengalami peningkatan 3 mata pelajaran dibanding tahun sebelumnya.
Tulisan ini tidak membahas sebab muasal penambahan mata pelajaran tersebut. Tetapi yang perlu digarisbawahi adalah persoalan UN terlalu banyak benah merah yang mesti diurai satu demi satu. Mulai dari tingkat kebocoran soal, keterlibatan guru dalam UN ataukah persoalan teknis lainnya seperti ketidaksiapan siswa menghadapi UN tersebut.
Apa yang disampaikan oleh Kordinator Bidang Monitoring dan Pelayanan Umum Indonesia Corruption Watch (ICW), Ade Irwan, seperti yang dilansir Harian Fajar, edisi Senin (21/04/08) kemarin, itu ada benarnya. Menurut Ade, dibeberapa daerah dan bahkan disemua daerah ada semacam trend dan menjadi ajang pamer bahwa di daerah tersebut memiliki kualitas pendidikan yang meningkat.
Sinyalemen bahwa sekolah memanfaatkan jaringan guru, sehingga siswa bisa mendapatkan bocoran soal adalah sebuah hasil penelitian yang secara ilmiah tentunya bisa dipertanggungjawabkan. Menurut Ade, kebocoran soal pada UN tahun ini bisa saja terjadi. Hal itu disebabkan oleh tidak adanya standarisasi sekolah yang dikeluarkan oleh Depdiknas, sehingga setiap daerah berlomba-lomba mengurangi jumlah siswa yang tidak lulus dengan menempuh berbagai cara.
Tim Pemantau
Dan seperti tahun sebelumnya, untuk menghindari adanya kebocoran dan kecurangan Ujian Nasional (UN), maka pihak pemerintah dan panitia pelaksana telah memberikan pengawasan super ketat. Hal itu dibuktikan dengan dilibatkannya tim pemantau independen dari universitas untuk membantu pelaksanaan UN tersebut.
Bukan hanya pemantau dari tim independen. Masing-masing ruangan ujian pun akan diawasi oleh dua orang pengawas yang berasal dari sekolah berbeda tetapi dalam satu rayon. Jadi misalnya sekolah A. Pihak sekolah akan mengirimkan pengawasnya untuk mengawas di sekolah B dan begitupun sebaliknya. Jadi ada model pengawasan silang antara satu sekolah dengan sekolah lainnya.
Tetapi yang dikatakan oleh Ade Irwan ada benarnya. Kualitas tim pemantau independen sangat diragukan. Alasannya Depdiknas hanya sebatas mendeklarasikan keberadaan tim tersebut, namun tidak dibarengi dengan kekuasaan teknis yang bisa dilakukan oleh tim pemantau. Tim tidak sama sekali mereduksi risiko bocornya soal. (Fajar, Senin 21 April 2008)
Selain kedua unsur tersebut, pelaksanaan ujian juga akan dipantau oleh pihak keamanan dari kepolisian. Dan biasanya lima orang petugas akan berada disekolah tersebut. Dan tugasnya tentunya adalah selain menjaga keamanan, juga akan membantu pengawasan, sehingga kemungkinan terburuk bisa dieliminir.
Model Kecurangan
Dari beberapa tulisan atau berita tentang dugaan adanya kecurangan pelaksanaan UN, tak satupun yang bisa memberikan deskripsi, seperti apa model kecurangan yang seringkali terjadi dalam pelaksanaan UN. Komentar yang muncul hanya bermuara pada kebocoran atau kecurangan UN, yang hanya terjadi pada tataran bahwa siswa mendapatkan soal atau malah jawaban didapatkan satu hari sebelum pelaksanaan ujian ataukah 30 menit sebelum ujian dilangsungkan.
Saya sendiri ingin berbagi kepada pembaca, atau siapa saja yang ingin mengetahui model kecurangan UN tersebut. Model yang saya urai nanti, mudah-mudahan tidak berimplikasi buruk kepada pembaca. Saya berharap bahwa model kecurangan atau kebocoran soal ini hanya menjadi pelajaran kepada kita semua, bahwa apa yang dituduhkan oleh banyak kalangan selama ini, itu tidak bisa dibantahkan.
Berdasarkan pengamatan ataukah juga bisa didasarkan oleh pengalaman pribadi, praktik kecurangan dalam pelaksanaan UN, itu sudah berlangsung lama dan dilakukan secara rapi dan terencana. Misalnya, dalam pertukaran guru yang melakukan pengawasan secara silang. Pihak kepala sekolah hanya mengirimkan guru bidang studi yang mata pelajarannya tidak diujikan secara nasional. Sementara guru bidang studi yang diujikan, sudah dipersiapkan menjadi “penjaga kandang” dan akan mendapat tugas tambahan yakni sebagai joki.

Terdapat beberapa mekanisme dan modus dalam menjalankan praktek kecurangan itu. Modus pertama adalah saat ujian sudah berlangsung, beberapa guru sudah berkumpul disalah satu ruangan khusus. Diruangan tersebut guru mengerjakan soal ujian. Soal dengan mudah didapatkan, pada ruangan yang kelebihan soal.
Biasanya sudah ada panitia khusus yang bertugas untuk mencari kelebihan soal tersebut. Setelah soal dikerjakan, kemudian jawaban dipindahkan pada secarik kertas kecil. Pada tahap ini, banyak guru yang terlibat untuk menuliskan kunci jawaban. Puluhan kertas yang berisikan jawaban, diberikan kepada siswa di ruangan dan dilakukan oleh seorang guru yang sudah mendapat mandat. Jawaban dengan mudahnya didapatkan siswa, karena antara pembawa kunci jawaban dan pengawas ruangan sudah terjadi saling pengertian. Dalam satu ruangan, maksimal 5 “pelampung’ jawaban beredar diruangan.
Pihak kepala sekolah A misalnya, akan melakukan kontak telepon dengan kepala sekolah B, bahwa ujian yang dilaksanakan disekolahnya “aman”. Apalagi yang mengawas diruangan adalah guru yang berasal dari sekolah B. Sehingga kepala sekolah B, tentunya akan melakukan praktik yang sama seperti di sekolah A, karena yang mengawas adalah guru dari sekolah A. Jadi ada semacam saling pengertian antara masing-masing kepala sekolah, tentunya diawali oleh sebuah kesepakatan sebelum UN dilaksanakan.
Ada juga modus kedua dalam memberikan jawaban kepada siswa. Kalau cara ini sangat rapi karena siswa tidak mengetahui, apakah mereka diberikan jawaban atau tidak. Setelah Lembaran Jawaban Komputer (LJK) dikumpulkan di ruang panitia, maka peran guru yang bertindak jadi joki kembali berpengaruh. LJK tersebut kembali didrop pada ruangan yang sudah ditunjuk. Ada empat atau lima guru yang berada dalam ruangan khusus itu. Masing-masing guru berperan dan bertanggung jawab langsung terhadap jawaban siswa. Jawaban siswa diatas Lembaran Jawaban Komputer (LJK), diganti dengan jawaban yang sebenarnya. Kalau metode ini terbilang sangat lama dikerjakan, karena setiap LJK dari siswa diamati secara satu per satu.
Sementara model lainnya seperti mendapatkan jawaban dengan membayar sejumlah uang, itu bisa saja terjadi. Tetapi berdasarkan keterangan rekan-rekan guru dari berbagai daerah, model seperti sangat riskan dilakukan. Kalaupun ada siswa yang mendapatkan jawaban dengan membayar, berarti siswa tersebut termasuk nekat. Alasannya adalah soal yang akan diujikan, disimpan di kantor kepolisian dan hanya akan didistribusikan pada hari H. Jadi kemungkinan model itu digunakan untuk membocorkan soal sangat minim.
Lalu apa solusi untuk meredam aksi kecurangan dan kebocoran soal itu? Jawabannya tentunya dikembalikan kepada hati kita masing-masing. Maukah pemerintah mulai dari tingkat atas hingga tingkat guru, ingin melihat kualitas pendidikan meningkat atau tidak? Saya kira terlalu naïf, kalau standar kelulusan dimasing-masing daerah menjadi tolak ukur sebuah kualitas. Padahal proses kearah sana dilakukan secara tidak mendidik dan hanya menjadikan guru sebagai pendidik bergelar sarjana yang semakin dikerdilkan oleh sebuah sistem kotor. Lalu kapan sistem dengan budaya bantu membantu siswa dapat dihilangkan.
Dan mudah-mudahan saja ujian yang berlangsung hari ini, tidak dinodai oleh praktik kecurangan. Rektor UNM terpilih Arismunandar mengharapkan, agar semua pihak yang terlibat dalam pengawasan UN, baik itu tim independen maupun pengawas kelas, mampu menjalankan tugasnya secara objektif, tegas, sehingga tidak lagi ditemukan kasus-kasus yang menodai pelaksaanaan UN

Wednesday, 10 December 2008

Wajah Pendidikan Masih Buram

Budhi A.M. Syachrun

Ketika saya membaca iklan dan berita di salah satu media lokal di Sulsel bahwa akan diadakan Seminar dan Diskusi Pendidikan, maka saya tertarik untuk memberikan apresiasi di tulisan ini. Saya pun memilih judul tulisan diatas dengan mengambil tema sentral, bahwa sesungguhnya wajah pendidikan di Indonesia dan Sulsel pada khususnya ternyata masih penuh keprihatinan dari berbagai sisi.
Saya tidak asal memilih statement ini, tetapi didasarkan oleh realita di lapangan dan banyaknya kasus-kasus yang terjadi dan sudah menodai proses pendidikan yang sementara digemborkan-gemborkan. Kasus-kasus yang saat ini terjadi, sudah bisa mewakili bahwa pendidikan sesungguhnya masih jauh dari harapan kita semua.
Ada beberapa deskripsi yang memberikan sebuah ilustrasi bahwa pendidikan masih penuh dengan berbagai keprihatinan. Misalnya adalah sebagian dari kita masih berpandangan bahwa peningkatan kelulusan siswa setiap tahunnya, sudah mencerminkan bahwa kualitas pendidikan di daerah ini sudah bisa disejajarkan dengan daerah lainnya. Orang tidak pernah tahu bahwa angka kelulusan yang dinilai dari variabel angka tersebut, tidak menggambarkan sesungguhnya kualitas pendidikan.
Kasus bocornya soal Ujian Nasional pada enam sekolah di Makassar beberapa waktu lalu, adalah salah satu contoh kongkrit betapa kita masih menganut paham yang menilai sebuah standar kelulusan dari hasil akhirnya, tanpa memerhatikan bagaimana proses tersebut berjalan. Saya yakin bahwa apa yang terjadi di Makassar hampir merata terjadi pada semua sekolah di daerah ini.
Kasus lainnya adalah praktek nilai siswa yang didongkrak pada SMAN 3 Makassar beberapa waktu lalu. Unhas sebagai salah satu universitas terkemuka, harus mengambil langkah tegas karena mendapati nilai siswa dari SMAN 3 Makassar yang sudah didongkrak. Akhirnya adalah sekolah tersebut masuk dalam daftar hitam dan dihukum selama empat tahun. Kasus tersebut sudah mencoreng dunia pendidikan dan tidak tertutup kemungkinan siswa dari daerah lainnya, juga ada yang dimanipulasi nilainya tetapi belum tersentuh oleh penemuan internal pihak kampus. Sebagai konsekwensinya adalah sang kepala sekolah akhirnya dicopot dari jabatannya.
Terdapat juga kasus dimana didapatinya beberapa sekolah yang masih menerapkan praktek pungutan liar atau pungli. Pungli tersebut dianggap melanggar karena disaat yang bersamaan pemerintah sudah menorehkan program pendidikan gratis. Masalahnya adalah pungli justru terjadi pada sekolah-sekolah favorit.
Di beberapa daerah, praktek pungli tersebut masih sering terjadi dan tidak sempat terpantau oleh media dan diketahui publik. Tetapi konsep pungli yang disepakati antara pengurus komite dan pihak sekolah, dengan mencantumkan beberapa item seperti, pembelian seragam, komputer, pengadaan buku paket atau agenda studi banding para guru-guru yang ada disekolah tersebut.
Bentuk kasus lain adalah adanya pembelian buku yang disubsidi dari pendidikan gratis, dan hal tersebut tidak bisa menutupi kebutuhan proses belajar mengajar di sekolah. Akhirnya adalah banyak diantara kita yang mengambil segala cara agar tetap menjual buku, kendati itu sudah mendapat peringatan dan larangan. Maka ditempuhlah dengan berbagai alternatif penjualan, apakah guru yang langsung menjual atau buku tersebut dititipkan pada koperasi yang ada di sekolah.
Persoalannya adalah ketika konsep pendidikan gratis diterapkan, kebutuhan buku paket yang seharusnya dimiliki oleh siswa tersebut, hanya dinikmati oleh siswa pada saat mereka berada di dalam lingkungan sekolah. Siswa pun dilarang untuk membawa buku paket ke rumah dan hanya dianjurkan dibaca diperpustakaan ataupun di dalam kelas. Kalau dianggap bahwa buku paket yang diberikan kepada siswa bertujuan untuk mencerdaskan anak didik, kenapa pemberian buku paket tidak diberikan secara utuh dan tidak hanya menjadi arsip di perpustakaan saja.
Itu hanya contoh kasus yang bersifat umum dan diketahui oleh publik. Ada juga kasus dimana seorang kepala sekolah tidak bersifat transparan, dalam memberikan data keuangan penggunaan anggaran di sekolah tersebut. Yang terjadi adalah kucuran dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tidak pernah diketahui secara terbuka oleh komponen di sekolah dan hanya ‘dikuasai’ oleh kepala sekolah dan kroninya.
Jika ada seorang guru yang bersifat kritis dalam mempertanyakan penggunaan anggaran BOS tersebut, maka konsekwensinya adalah guru bersangkutan akan dicarikan segala cara agar pindah dari sekolah tersebut. Ironinya adalah pihak pemerintah setempat tidak mempunyai keberanian untuk melakukan pemeriksaan terhadap kepala sekolah, terutama dalam hal penggunaan dana BOS tersebut.
Kasus yang terbaru adalah disebuah daerah, guru yang akan pindah ke sebuah sekolah, tak perlu terlalu pusing karena pemerintah setempat sudah mempermudah guru tersebut untuk dimutasi. Surat mutasi hanya dikeluarkan oleh Dinas Pendidikan Nasional, tanpa melakukan kordinasi dengan pihak Badan Kepegawaian Daerah (BKD).
Akhirnya adalah banyak guru yang pindah hanya mengandalkan surat keterangan dari dinas pendidikan. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana kalau guru tersebut melakukan pengurusan administrasi kenaikan pangkat, sementara guru dimutasi hanya berbekal surat sakti dinas, bukan hasil kordinasi dengan pihak BKD sebagai lembaga yang berkompoten.
Pola Bantaeng & Pangkep
Sebenarnya beberapa daerah di Sulsel sudah berpikiran maju terutama dalam hal memerhatikan sektor pendidikan. Jauh sebelum pencanangan pendidikan gratis oleh Pemprov Sulsel, di beberapa daerah sudah lebih awal mencanangkan program tersebut. Di Kabupaten Bantaeng misalnya, sebelum dana dari Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dikucurkan oleh pemerintah pusat, daerah yang pada saat itu masih dipimpin oleh Azikin Soelthan, justru sudah menggratiskan pendidikan hingga SMP. Bahkan hingga saat ini, pendidikan gratis sudah dirasakan hingga ke level SMA.

Begitupun yang terjadi di Kabupaten Pangkep. Saya justru kagum dengan metode dan pendekatan yang dilakukan oleh Bupati Pangkep Syafrudin Nur dalam memperbaiki standar pendidikan di daerah itu. Tanpa banyak diskusi, tanpa banyak bicara, tanpa banyak publikasi, pendidikan gratis didaerah itu sudah berjalan sejak 2006 lalu.
Pendidikan gratis diprioritaskan kepada para siswa mulai dari semua tingkatan, yakni SD, SMP dan SMA, baik yang berstatus negeri maupun swasta. Ada yang menilai bahwa pemberian program pendidikan gratis sangat tidak populis. Hal itu didasarkan pada kebiasaan bahwa konsep pendidikan gratis diprogramkan kalau sebuah daerah sudah kelebihan dana.
Untuk kesejahteraan guru, pemkab Pangkep sangat respek dan memberikan tunjangan baik guru PNS maupun Non PNS. Dalam pemberian tunjangan guru tersebut dirinci masing-masing, kepala sekolah sangat terpencil mendapatkan kesejahteraan sebesar Rp 300.000/bulan, kepala sekolah terpencil (Rp. 250.000/bulan), kepala sekolah wilayah daratan (Rp. 200.000/bulan), kepala TK (Rp. 200.000/bulan), guru sangat terpencil (Rp. 150.000/bulan), guru terpencil ((Rp. 100.000/bulan), kepala SLTP negeri dan swasta ((Rp. 250.000/bulan), guru SMA negeri dan swasta (Rp. 250.000/bulan) dan guru SLTP negeri dan swasta (Rp. 100.000/bulan).
Kita semua menilai bahwa program pendidikan gratis yang sudah dicanangkan oleh pemimpin terpilih Syahrul Yasin Limpo dan Agus Arifin Nu’mang, dapat merubah image bahwa wajah pendidikan yang dari awal saya bahasakan sangat memprihatinkan, bisa menjadi lebih baik lagi.
Kita hanya berharap bahwa tulisan ini menggugah pikiran akal sehat kita, bagaimana sesungguhnya wajah pendidikan di daerah ini. Apakah dengan pencanangan program pendidikan gratis sudah bisa memberikan garansi bahwa kualitas pendidikan kita meningkat atau tidak. Apakah dengan memberikan sertifikasi kepada guru, kesejahteraan mereka dapat meningkat atau tidak. Apakah Dewan Pendidikan sudah menjadi lembaga pengontrol dalam penyelenggaraan pendidikan atau tidak.
Paling tidak adalah kita sebagai guru membutuhkan pemimpin yang mengetahui akar permasalahan pada tingkat bawah. Bukan pemimpin yang bisa lihai beretorika, tanpa ada tindak lanjut dilapangan. Sesungguhnya banyak persoalan pendidikan dilapangan yang perlu dikupas secara tuntas. Tidak adanya lembaga pengontrol yang akurat, sehingga semua persoalan tersebut hanya berada pada tataran diskusi semata.
Kita semua sadar bahwa untuk menjadi pemimpin, apalagi menjadikan pendidikan gratis sebagai komoditi politik, itu sangat berat dan memikul tanggung jawab yang teramat besar. Tetapi paling tidak adalah rakyat dalam hal ini ’guru’ sangat menaruh harapan, agar mutu dan kualitas pendidikan dapat meningkat dan tidak stagnan. Semoga seminar dan diskusi pendidikan kali ini, dapat memberikan sebuah solusi kekinian dalam merubah wajah pendidikan di daerah ini, sehingga ’wajahnya’ tidak seperti yang saya bahasakan di awal tulisan. Salam Omar Bakrie.

Mengintip Pendidikan Gratis di Pangkep (2)

Budhi A.M. Syachrun

Latar Belakang Pendidikan Gratis
Setiap program yang berorientasi demi kepentingan rakyat secara keseluruhan, pasti ada acuan yang mendasari penerapan program tersebut dilapangan. Di daerah lain seperti Kabupaten Gowa Sulsel yang sudah menerapkan program pendidikan gratis, pemerintah setempat mengeluarkan Peraturan Daerah (perda) sebagai payung hukum dari penerapan program tersebut.
Di Pangkep, pemerintah setempat menilai bahwa Perda untuk sementara belum bisa dilahirkan, karena tanpa Perda pun program tersebut sudah berjalan sesuai dengan harapan. Hal itu disebabkan oleh adanya kerja sama semua pihak dan komponen lainnya untuk bahu membahu menyukseskan program pendidikan gratis.
Dibawah ini akan diuraikan secara detail yang menjadi latar belakang diterapkannya program pendidikan gratis di Pangkep yakni berdasarkan Instruksi Bupati Pangkajene dan Kepulauan Nomor 440/125/Hukum Tertanggal 24 Desember 2005.
Instruksi diatas juga didukung oleh aturan lain seperti, UU No 29 Tahun 1959 tentang Pembentukan Daerah-Daerah Tingkat II di Sulawesi (Lembaran Negara Tahun 1959 No 74 Tambahan Lembaran Negara Nomor 1822), UU No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 125 dan Tambahan Lembaran Negara Nomor 4437) dan UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Tahun 2003 Nomor 78 dan Tambahan Lembaran Negara Nomor 4301).
Berangkat dari kesadaran akan kondisi ril sebagian masyarakat Pangkajene dan Kepulauan yang secara ekonomi masih lemah, maka perubahan-perubahan paradigma dimaksud telah memberi peluang bagi komitmen luhur pemberdayaan masyarakat khususnya di bidang pendidikan dalam bentuk pendidikan gratis.
Dengan prinsip tersebut maka perlahan tapi pasti, masyarakat Pangkep terutama yang mempunyai anak usia sekolah tidak lagi memiliki keraguan dalam hal mendapatkan pendidikan yang bermutu, dengan tidak dibebani anggaran karena pemerintah sudah mengalokasikannya.
Program pendidikan gratis diterapkan tersebut mempunyai beberapa tujuan yang ingin dicapai, terutama terkait dengan penerapan program tersebut secara menyeluruh dilaksanakan. Tujuan diurai dalam tulisan ini merupakan salah satu bagian tak terpisahkan dari pencapaian target pendidikan bermutu dan berkualitas di daerah ini.
Ada beberapa tujuan yang ingin dicapai dalam penerapan program pendidikan gratis di Pangkep, masing-masing:
• Meningkatkan perluasan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan.
Artinya adalah semua anak didik tanpa kecuali harus mengenyam pendidikan dasar, baik mereka yang berada di daratan, pegunungan maupun mereka yang selama ini bermukim dikepulauan. Targetnya adalah mereka yang masuk usia sekolah tidak ada lagi yang tidak tahu menulis dan membaca. Dengan biaya gratis yang diberikan oleh pemerintah, hanya orang tua yang tidak peduli pendidikanlah yang tidak mau menyekolahkan anak-anaknya.
• Meningkatkan pelayanan dan pengawasan penyelenggaraan pendidikan
Artinya adalah dengan program pendidikan gratis menuntun stakeholder dan semua pihak yang ada didalamnya, agar bisa memberikan pelayanan maksimal kepada rakyat, terutama dalam hal pemenuhan hak hidup untuk mendapatkan pendidikan yang diinginkan. Pemerintah pun menerapkan sistem pengawasan yang berlapis demi mencapai sebuah kepuasan.
• Meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) serta kesejahteraan bagi tenaga pendidikan.
Artinya adalah dengan adanya program pendidikan gratis bisa menghasilkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal. Harus dihilangkan image dan tanggapan miring bahwa sesuatu yang bersifat gratis, akan menghasilkan kualitas yang rendahan. Di Pangkep kendati menerapkan pendidikan gratis, tetapi terkait peningkatan kualitas baik itu siswa maupun guru tetap dikedepankan. Guru juga sebagai ujung tombak dan penentu utama dalam bidang pendidikan, masalah kesejahteraan tetap menjadi prioritas utama.
• Meningkatkan penyediaan sarana dan prasarana
Artinya adalah konsekwensi dari penerapan pendidikan gratis, tidak hanya berorientasi kepada anggaran gratis semata. Pemerintah setempah tetap memerhatikan persoalan sarana dan prasarana yang ada disekolah. Kendati banyak siswanya yang berkualitas, tetapi karena tidak didukung oleh infrastruktur yang memadai, tetap dianggap tidak berhasil dan hanya menguntungkan salah satu pihak. Anggaran besar pun sudah dikeluarkan untuk membenahi sarana dan prasarana tersebut.
• Meningkatkan peran serta masyarakat dalam pengelolaan pendidikan
Artinya adalah dengan adanya penerapan program pendidikan gratis, ada umpan balik dari semua pihak, termasuk masyarakat, bagaimana sesungguhnya aplikasi dilapangan program tersebut. Tanpa ada peran serta masyarakat dalam pengelolaan program ini, program ini tetap tidak bisa dikatakan sudah berhasil. Jadi intinya semua pihak harus melibatkan diri dalam pengelolaan pendidikan itu. Proses pendidikan yang dikelola dan dirancang secara bagus, akan menghasilkan kualitas pendidikan yang bisa dibanggakan, baik pada tingkat lokal, regional, nasional maupun internasional.
Kualitas Siswa dan Kesejahteraan Guru
Beberapa waktu lalu, ada sejumlah pihak yang berpandangan bahwa sebuah program yang berkonotasi gratis, itu akan mengabaikan suatu kualitas. Dan pendapat itu perlahan dibantah, dan di Pangkep program pendidikan gratis justru membantu siswa untuk menunjukkan kualitasnya, dalam hal melakukan persaingan secara sehat dengan siswa dari daerah lainnya.
Bila berbicara kualitas secara individu, maka Pangkep bisa “pasang badan” dan masih jauh diatas dibanding daerah lainnya. Salah satu prestasinya adalah pada tahun 2008 ini, ketika diadakan lomba Matematika Pasiad Tingkat Nasional, Pangkep meraih peringkat 9 dan menjadi urutan pertama pada tingkat Sulsel. Tujuh orang siswa yang mewakili Sulsel semuanya berasal dari Pangkep. Ada sebuah sekolah SMA Pasiad di Bandung, anak-anak Sulsel yang lolos masuk di sekolah tersebut semuanya berasal dari Pangkep.
Di bidang akademik lainnya, para siswa sudah menorehkan sejumlah prestasi, masing-masing, juara 1 pada Olimpiade MIPA SD tahun 2006, juara 1 Olimpiade MIPA SDLB tahun 2006, juara 2 (2006), juara 1 (2007) dan juara 1 (2008) pada Olimpiade Sains Ekonomi se Sulsel, juara 1 Olimpiade Sains Astronomi se Sulsel tahun 2007, juara 1-4 lomba Matematika PASIAD SMP se Sulsel tahun 2008, juara 3 lomba kreativitas SD tahun 2006 dan juara 1 pada tahun 2008, dan juara 2 pada Kompetensi Siswa (Teknik Las) tahun 2008.
Terdapat juga berbagai prestasi dalam bidang olahraga, masing-masing, juara 1 (2006) dan juara 2 (2008) pada lomba pencak silat putera, juara 1 (2006) dan (2007) pada kejuaraan tennis meja puteri SD se Sulsel, juara 3 (2006) dan juara 1 (2007) pada kejuaraan tennis meja putera SD se Sulsel, juara 2 (2006) dan juara 1 (2007) pada kejuaraan karate putera SD se Sulsel, juara 2 (2006) dan juara 1 (2007) pada kejuaraan karate putri SD se Sulsel, juara 1 (2008) pada kejuaraan takraw, juara 1 dan 2 pada kejuaraan atletik 100 M putra & putri tahun 2008, juara 1 pada kejuaraan senam artistik putra dan putri tahun 2008, juara 1 pada lomba lempar lembing putri tahun 2008 dan juara 1 pada lomba tolak peluru tahun 2008.
Namun disadari bahwa dampak dari penerapan pendidikan gratis, kesejahteraan guru merasa dianaktirikan. Apalagi kesejahteraan guru tidak menjadi salah satu item pembiayaan dalam dana BOS. Di Pangkep tidak sedikit guru yang melakukan tugas dan pengabdian berada di daerah terpencil.
Diantara 3.060 guru yang ada saat ini, ada 892 guru yang ditugaskan didaerah terpencil. Guru merupakan salah satu unsur penentu utama dalam bidang pendidikan demi mendapatkan kualitas pendidikan yang baik. Pemerintah setempat pun sangat konsen terhadap nasib guru dengan memberikan berbagai macam kesejahteraan kepada mereka.
Sebagai konsekwensi dari tidak dipungutnya biaya dari pihak komite sekolah, secara praktis pemerintah memberikan tunjangan kesejahteraan kepada para guru. Pemberian kesejahteraan itu diberikan agar guru tidak merasa dianaktirikan dalam pemberlakukan program pendidikan gratis tersebut.
Pemberian tunjangan kesejahteraan guru tersebut dengan rincian sebagai berikut: kepala sekolah sangat terpencil mendapatkan kesejahteraan sebesar Rp 300.000/bulan, kepala sekolah terpencil (Rp. 250.000/bulan), kepala sekolah wilayah daratan (Rp. 200.000/bulan), kepala TK (Rp. 200.000/bulan), guru sangat terpencil (Rp. 150.000/bulan), guru terpencil ((Rp. 100.000/bulan), kepala SLTP negeri dan swasta ((Rp. 250.000/bulan), guru SMA negeri dan swasta (Rp. 250.000/bulan) dan guru SLTP negeri dan swasta (Rp. 100.000/bulan).
Selain memberikan tunjangan kesejahteraan, juga dialokasikan anggaran untuk memberikan tunjangan khusus dengan rincian masing-masing, tunjangan khusus daerah sangat terpencil kepala sekolah, guru, penjaga sekolah sebesar Rp 150.000/bulan, tunjangan khusus daerah terpencil kepala sekolah, guru, penjaga sekolah sebesar Rp 100.000/bulan dan kesejahteraan guru PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) sebesar Rp 100.000/bulan.
Pemerintah juga menyediakan anggaran dalam membantu kegiatan operasional 77 sekolah sebesar Rp. 2.005.000.000 untuk SLTP dan SMA negeri atau swasta. Terkait dengan perkembangan teknologi informasi dengan menyediakan koneksi jaringan internet pada perpustakaan daerah Kab. Pangkep sebesar Rp 104.500.000, pengadaan komputer SMA/SMP negeri & swasta 105 unit sebesar Rp 787.500.000 dan bantuan lab komputer dengan perangkatnya untuk SMA Unggulan sebesar Rp. 110.000.000.
Ada hal yang menggembirakan bahwa program dan janji kampanye gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo beberapa waktu lalu, yakni pendidikan gratis sangat klop dengan program serupa yang sudah berjalan di kabupaten Pangkep sejak tiga tahun terakhir.
Gubenur menegaskan bahwa program pendidikan gratis tidak mustahil dijalankan, sebab Pangkep misalnya sudah membuktikan bisa menjalankan program ini dengan baik dan sudah berlangsung selama tiga tahun.
Gubernur mencontohkan bahwa di Pangkep, selama kepemimpinan Bupati Pangkep Syafrudin Nur, pendidikan gratis dilakukan di empat item. Menurutnya, item-item tersebut akan bertambah menjadi 14 agar pendidikan tersebut benar- benar gratis.
Menurut gubernur, Pangkep sudah menerapkan pendidikan gratis dimulai dari SD hingga SMA, baik yang berstatus negeri maupun swasta. Kalaupun ada yang beranggapan bahwa 15 item dari pendidikan gratis merupakan program nasional, namun menurut gubernur, hal itu tidak menjadi masalah. Dana dari program tersebut bisa dialihkan ke pos yang lain. Hal tersebut disampaikan oleh gubernur saat peresmian rumah aspirasi rakyat PDK Pangkep, Kelurahan Samalewa Bungoro Pangkep.
Gubernur menambahkan, dalam masa 101 hari kerjanya, pihaknya kembali menegaskan bahwa akan lebih fokus pada implementasi program pendidikan gratis. Namun program tersebut akan berlangsung secara bertahap dan mengambil acuan, salah satunya adalah Pangkep yang sudah menerapkannya sejak 2006 lalu.
Di Sulsel, Pangkep merupakan daerah pertama yang menerapkan pendidikan gratis. Saat ini sudah ada beberapa daerah yang mengikuti program tersebut, seperti Sinjai, Bantaeng, Takalar, Gowa dan Sinjai.
Tahun ini ada sekitar Rp 180 milyar dikucurkan untuk mendukung kesuksesan program pendidikan gratis. Anggaran tersebut berasal dari APBD Sulsel yang merupakan ujicoba pendidikan gratis. Meski demikian, anggaran itu dikucurkan pada kota atau kabupaten yang sudah siap mencanangkan pendidikan gratis, seperti Pangkep dan daerah lainnya. (Tulisan ini disusun berdasarkan dokumentasi pribadi dan data dari berbagai sumber terkait)

Mengintip Pendidikan Gratis di Pangkep (1)

Mengintip Pendidikan Gratis di Pangkep (1)
(Bagian Pertama Dari Dua Tulisan)

Budhi A.M. Syachrun


Semenjak pendidikan gratis diterapkan di Pangkep Sulsel, sejumlah pihak turut memberikan apresiasi dan bahkan Bupati Pangkep, Syafrudin Nur tak segan-segan diundang tampil pada acara seminar, demi membahas dan membedah konsep pendidikan gratis yang dicanangkan di daerah penghasil ikan bandeng tersebut.
Program ini termasuk yang fenomenal karena memberikan program pendidikan gratis kepada siswa dari semua tingkatan. Tidak hanya pendidikan gratis, tetapi ada enam program berikutnya yang juga memberikan pelayanan gratis kepada masyarakat, seperti kesehatan gratis, KTP gratis, akta kelahiran gratis, kartu kuning gratis, kartu keluarga gratis, pemakaman gratis dan memberikan uang duka kepada kaum dhufa. Ketujuh program secara gratis dikenal dengan nama SEVEN ‘G’.
Konsep pendidikan gratis membuat sebagian orang merasa pesimis dan tidak yakin, bahwa Pangkep yang hanya mempunyai Pendapatan Asli Daerah (PAD) terbilang sedikit dibanding daerah lainnya, ternyata sangat care dengan mengeluarkan dana yang tidak sedikit demi mewujudkan suatu program pendidikan gratis.
Tidak ada pihak pun yang pernah menyangka bahwa seorang Bupati Pangkep, Syafrudin Nur, berani menorehkan program gratis tersebut. Padahal orang tidak pernah berpikir bahwa sesungguhnya beliau adalah birokrat tulen yang malang melintang di pemerintahan. Konsep yang sampai sekarang masih utuh dan bahkan menjadi percontohan pada skala lebih luas, bukanlah program yang lahir secara spontan, tetapi bercermin dari sebuah pemikiran yang matang, bagaimana anak-anak Pangkep bisa mengenyam pendidikan di semua tingkatan, tanpa ada beban dan keluhan dari orang tua.
Pendidikan gratis itu menjadi suatu daya tarik tersendiri, terutama bagi masyarakat yang selama ini kesulitan untuk menyekolahkan anak-anaknya. Dengan adanya program tersebut secara perlahan mereka terbantu dan tidak memiliki beban lagi dalam mendorong anak-anaknya untuk mencapai taraf pendidikan yang tinggi.
Konsep pendidikan gratis dapat terus dipertahankan pada masa mendatang. Apatah lagi program tersebut sudah diadopsi sebagai bagian dari program provinsi yang tentu saja, tidak ada alasan untuk tidak turut mengambil bagian, bahwa sebuah program akan berjalan kalau keterlibatan semua pihak ada didalamnya.
Tentang Pendidikan Gratis
Terdapat berbagai analisa dan referensi tentang implementasi pelaksanaan pendidikan gratis di sebuah negara atau daerah. Menurut Muh Zulkifli Mochtar Husein, salah seorang mahasiswa pascasarjana Transportation Engineering, Osaka City University Jepang, dalam sebuah artikelnya mengatakan, ada empat jenis sistem pembiayaan pendidikan gratis diberbagai negara.
Keempat jenis itu masing-masing, jenis pertama adalah subsidi penuh sehingga benar-benar gratis hingga ke program S3. Sistem ini ditempuh oleh salah satu negara yakni Jerman dan Austria. Jenis yang kedua adalah hampir mirip dengan cara pertama, hanya biaya disediakan sampai pada jenjang pendidikan tinggi dan masanya dibatasi hingga mencapai umur tertentu dan cara ini dipraktekkan di negara seperti Belanda.
Ada juga jenis ketiga yakni pembiayaan pendidikan gratis tersebut diberikan hingga ke jenjang sekolah menengah. Sedangkan untuk perguruan tinggi dikenakan iuran walaupun masih disubsidi. Sementara jenis keempat adalah pendidikan pembiayaan sendiri. Menurut Zulkifli, cara ini sangat bermacam-macam, ada yang melibatkan alumni, kerjasama dengan industri atau perbankan dan cara ini banyak kita jumpai di beberapa provinsi di Amerika.
Dia pun menambahkan, bagi negara maju pendidikan gratis, selain karena tuntutan konstitusi mereka, juga didukung oleh perekonomian negara yang sudah cukup mapan untuk investasi pendidikan. Anggaran pendidikan telah mencapai lima sampai delapan persen produk domestik bruto. Sementara di Indonesia, investasi pendidikan masih sangat kecil yakni sekitar 1,3 persen dari produk domestik bruto.
Di Amerika Serikat, sekolah publik gratis karena ada pajak sekolah khusus. Warga negara AS yang mempunyai tanah dan rumah harus membayar pajak sekolah didistriknya, terlepas dari warga tersebut mempunyai anak atau tidak. Di Belanda, rata-rata pajak penghasilan cukup tinggi yakni 60 persen. Sementara di negara-negara Austria dan Swedia, pajak penghasilan mencapai 70 persen dan sebagai konsekuensinya kebutuhan dasar warga negara seperti pendidikan dan kesehatan terjamin.
Guru Besar UNM, Prof Dr Wasir Thalib, memperjelas bahwa jika ada yang beranggapan bahwa pendidikan gratis itu sulit diimplementasikan, pada dasarnya patut dipertanyakan dalam hal memberikan kesempatan belajar kepada masyarakat terutama bagi kalangan bawah.
Menurutnya, pendidikan itu sangat mahal. Makanya, tidak dapat dipungkiri jika tidak sedikit orang yang menyambut lontaran program yang mengupayakan pendidikan gratis itu secara baik. Apalagi bagi mereka yang berkutat pada masalah pendidikan. Sebab tentunya, bagaimana mutu pendidikan dapat ditingkatkan jika kita masih berkutat pada tataran biaya.
Dia pun mengakui bahwa mutu pendidikan di tanah air memang masih terbilang belum menggembirakan, kalau kita tidak mau menyebutnya rendah. Pada dasarnya ada tiga faktor yang membuat mutu pendidikan itu rendah, yakni modal pendekatan ouput analisis yang kurang, di mana kita selalu berlomba bagaimana mencari input yang bagus, dan kemudian berlomba mencari output yang bagus tapi prosesnya nol.
Kedua adalah model pendekatan yang sentralistik, sehingga tidak ada kesempatan sekolah untuk mengembangkan diri dan berproses untuk melakukan manajemen berbasis sekolah. Dan penyebab yang ketiga adalah peran serta masyarakat yang masih rendah. Mestinya menurutnya, masyarakat harus mengutamakan pendidikan karena mempunyai investasi jangka panjang. Namun masyarakat mengabaikan dan cenderung membiayai kebutuhan lain dibanding kualitas pendidikan anaknya.
Menurut Dr Marwah Daud Ibrahim, sejahtera atau tidaknya masyarakat tergantung pada pemerintahnya yang mau fokus dan memusatkan perhatian yang besar pada pendidikan atau tidak. Sebab, sebuah daerah tidak akan sejahtera jika pihak eksekutif atau penentu kebijakannya tidak memiliki perhatian pada bidang pendidikan.
Marwah mengatakan, di negara-negara maju seperti Amerika dan Eropa, sektor pendidikan telah mendapatkan perhatian yang sangat besar. Salah satu caranya adalah dengan membuat program berupa menggratiskan pendidikan mulai dari SD hingga ke tingkat SMA.
Dengan program tersebut, akunya, maka anak-anak usia sekolah yang kesulitan biaya bisa mendapatkan pendidikan. Bukan hanya itu, tetapi pendidikan yang mereka dapatkan adalah pendidikan yang berkualitas. Selama ini selalu saja muncul pertanyaan dan rasa pesimis karena minimnya anggaran dari pemerintah daerah. Sebenarnya ini adalah tanggung jawab pemerintah untuk berani mengambil tindakan dan keputusan yang tepat. Orang akan sejahtera jika bisa mengecap pendidikan. Dan dengan pendidikan orang akan bisa berkreasi.
Terkait dengan program pendidikan gratis di Pangkep dan beberapa daerah di Sulsel, itu akan mendapat perhatian dari pemerintah pusat. Kalau program ini berjalan dengan baik di Sulsel, akan menjadi model nasional dalam penjabaran pendidikan gratis.
Tentang Masyarakat Pangkep
Di daerah ini, tidak hanya faktor kemampuan masyarakat yang sangat rendah. Dari seluruh luas wilayah di Pangkep, hanya separuhnya disebut daratan yakni 7 kecamatan. Sisanya berada diwilayah kepulauan, Liukang Tangngayya, Kalmas yang berbatasan dengan Bali, NTB, Kalimantan dan Madura.
Warga yang ada dikepulauan tersebut cenderung mengunjungi kabupaten dari provinsi terdekat, ketimbang mengunjungi ibukota kabupaten. Hal itu disebabkan oleh jarak yang sangat jauh. Di kepulauan, untuk menjangkau lokasi tersebut harus menunggu musim yang tidak masuk dalam ombak besar.
Musim ini hanya terjadi dalam masa enam bulan dalam setahun. Sehingga pelaksanaan Ujian Nasional (UN) baru-baru ini, tim Dinas Pendidikan harus menerima nasib terdampar di Majene dan bahkan di Selayar.
Itu belum termasuk dengan sekolah yang ada dipegunungan. Anak-anak dipegunungan harus berjalan kaki ke sekolah dengan jarak tempuh sekitar 5 jam dan harus melewati puncak gunung kemudian turun didasar kaki gunung.
Dari beberapa tantangan tersebut membuat Syafrudin Nur saat maju menjadi calon kepala daerah di Pangkep, bertekad dan berjanji bahwa jika sampai terpilih menjadi pemimpin di daerah ini, akan membuat program pendidikan gratis. Dan impian tersebut akhirnya terkabul. Pada tahun 2006 lalu, resmi meluncurkan suatu program pendidikan gratis. Mungkin ini merupakan suatu program yang sangat langka dan jarang ditemui di daerah lainnya di Indonesia.
Dari program tersebut, Pangkep mencatatkan diri sebagai daerah yang memulai program pendidikan gratis pertama di Sulsel. Program ini sudah banyak diadopsi oleh beberapa daerah lainnya dan bahkan menjadi program utama di Sulsel dan melibatkan semua kabupaten dan kota. Ini tentunya membanggakan karena dari tanah Pangkep, sesungguhnya program pendidikan gratis bisa diimplementasikan secara menyeluruh.
Dan mungkin tidak ada orang yang pernah menyangka, bahwa di daerah Pangkep yang hanya mempunyai Pendapatan Asli Daerah (PAD) terbilang rendah dibanding dengan daerah lainnya, bisa menerapkan suatu program yang berpihak kepada rakyat dengan pelayanan serba gratis. Salah satu diantaranya adalah selama tiga tahun ini, Pangkep sudah menerapkan pendidikan gratis.
Pendidikan gratis diprioritaskan kepada para siswa mulai dari semua tingkatan, yakni SD, SMP dan SMA. baik yang berstatus negeri maupun swasta. Ada yang menilai bahwa pemberian program pendidikan gratis sangat tidak populis. Hal itu didasarkan pada kebiasaan bahwa konsep pendidikan gratis diprogramkan kalau sebuah daerah sudah kelebihan dana.
Tetapi semua yang dilakukan adalah bagaimana rakyat Pangkep terutama yang mempunyai anak usia sekolah dapat mengenyam pendidikan layak seperti anak seusianya. Saat bupati memulai memimpin daerah ini, kondisi masyarakatnya sangat memprihatinkan. Kemampuan masyarakat dalam membiayai anaknya untuk mendapatkan pendidikan itu sangat mencengangkan.
Perlu diketahui bersama bahwa sebelum ada Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dari pemerintah pusat, biaya pendidikan di Pangkep tertinggi masing-masing, SD sebesar Rp 9000 perbulan dan tidak ada lagi pembayaran diluar dari angka itu. Sementara di daerah pegunungan dan di daerah yang sangat terpencil ditetapkan hanya sebesar Rp 1000 perbulan. Namun dari angka itu, ada juga masyarakat yang tidak bisa membayarnya. Namun kondisi tersebut dapat dibantu dengan adanya aliran dana dari BOS sebesar Rp 19.500 persiswa/bulan. (Tulisan ini disusun berdasarkan dokumentasi pribadi dan data dari berbagai sumber terkait)

Korupsi dan Bupati Jeneponto

Budhi A.M. Syachrun


Kabupaten Jeneponto Sulsel merupakan salah satu daerah yang sangat terkenal, bukan karena potensi yang dimilikinya, tetapi adanya berbagai persoalan yang selalu dimiliki oleh pejabat dan mantan pejabat di daerah penghasil kuda dan garam itu.
Persoalan yang dimaksud disini adalah persoalan kasus korupsi yang selalu ‘dimiliki’ oleh mantan bupati maupun calon bupati di daerah tersebut. Dari beberapa mantan bupati yang sudah memimpin daerah itu, tercatat ada empat mantan bupati yang pernah terseret kasus korupsi.
Keempat mantan bupati itu adalah Drs Sehuddin (1985-1990), Drs H.M. Ilyas Mattewakkang (1990-1993), Dr H Baharuddin Baso Tika (1998-2003) dan Radjamilo (2003-2008). Drs Sehuddin terseret kasus korupsi karena persoalan pipa yang kasusnya sedang hangat pada saat itu. Karena tidak ada bukti yang cukup kuat, sehingga beliau dapat mengakhiri masa periode kesembilan memimpin Jeneponto.
Yang paling parah adalah alm HM Ilyas Mattewakkang. Kasusnya yang sempat fenomenal dan mengemuka di Sulsel pada tahun 1993 lampau, sehingga beliau hanya berhenti ditengah jalan dan diturunkan secara ’paksa’. Kasus tersebut membuat pemerintah Sulsel yang pada saat itu dipimpin oleh Gubernur HZB Palaguna (sekarang Ketua DPD PDIP Sulsel), memberikan tugas kepada H Andi Galib SH (mantan Jaksa Agung RI) sebagai pelaksana tugas bupati yang pada saat itu menjadi wakil gubernur.
Saat Dr H Baruddin Baso Tika menjadi bupati (1998-2003), beliau juga tidak bisa lepas dari persoalan kasus korupsi dan itu terbukti ketika mengakhiri tugasnya menjadi bupati Jeneponto yang ke 14, kasus waduk karaloe yang mengantar beliau untuk berurusan dengan pihak penegak hukum. Sekarang kasusnya sementara dalam proses kasasi di Mahkamah Agung (MA).
Begitupun yang terjadi pada Radjamilo. Kasus Jagung membuat Radjamilo harus berurusan dengan pihak penegak hukum. Sejumlah elemen mahasiswa dan sekolompok masyarakat pernah melakukan aksi demo, menuntut agar Radjamilo diproses sesuai dengan ketentuan hukum.
Saat ini kampanye Pilkada Jeneponto sudah dilaksanakan dan Insya Allah 28 Oktober mendatang, akan dilakukan pemilihan secara langsung di daerah yang sangat terkenal karena sebutan ’daerah gersang’. Yang menarik adalah dari tujuh calon bupati yang bertarung, dua diantaranya pernah ’bersentuhan’ dengan korupsi.
Kedua calon itu adalah Baharuddin Baso Tika dan Radjamilo. Justru ada hal yang menarik, dari tujuh calon bupati yang bertarung, hanya Sonda Tayang yang diusung oleh partai kecil yang berani menyinggung persoalan korupsi, saat pemaparan visi misi beberapa hari lalu. Calon lainnya terutama Baharuddin Baso Tika dan Radjamilo, tidak sedikitpun berani berbicara dengan persoalan pemberantasan kasus korupsi.
Kini rakyat Jeneponto mendambakan pemimpin yang bisa memberikan program yang terbaik kepada warganya. Sebagian rakyat Jeneponto rindu dengan pemimpin yang berkharisma, tidak tersangkut kasus korupsi dan bisa memperbaiki taraf hidup rakyat Jeneponto secara keseluruhan.
Akhirnya waktu yang bisa memberikan kepastian, apakah pemimpin yang lahir dari sebuah proses Pilkada secara langsung, bisa melahirkan calon bupati Jeneponto yang mempunyai legitimasi kuat dan bisa dipercaya. Rakyat Jeneponto harus bisa menghilangkan berbagai spekulasi yang berkembang, bahwa siapapun yang menjadi pemimpin di daerah itu, persoalan korupsi tetap tidak bisa dihilangkan begitu saja.

Kepala Sekolah

Budhi A.M.Syachrun


Pemimpin yang paling tinggi dalam sebuah jenjang sekolah adalah biasa kita sebut dengan nama Kepala Sekolah (kepsek). Kepsek ini yang paling berperan dan bertanggung jawab terhadap sesuatu yang terjadi dilingkungan sekolah. Jika sekolahnya berkonotasi negatif, maka imbasnya kepada kepala sekolah dan semua pihak yang ada dalam sekolah itu. Namun jika efeknya terkesan positif maka hanya kepala sekolah sendiri yang merasakannya.
Seharusnya memang adalah para petinggi kebijakan dalam sebuah daerah dimanapun, menempatkan seorang kepala sekolah tidak hanya berdasar pada penilaian yang bersifat kuantitas, tetapi dari segi kualitas guru yang ingin diangkat menjadi kepala sekolah perlu direvisi kembali perekrutannya.
Kadang kala kita menemukan seorang kepala sekolah yang terkesan arogan dan hanya mementingkan kepentingan sendiri, terutama dalam hal mengambil kebijakan strategis. Hal itu disebabkan oleh adanya sistem perekrutan yang salah, ketika sang kepala sekolah itu dicalonkan oleh dinas.
Akhirnya kita temukan sebuah fakta bahwa kepala sekolah yang lahir bukan karena didasarkan oleh kompetensi dan kapabilitas, maka memunculkan sang pemimpin yang bertindak semaunya dan tidak ingin mendengar aspirasi dari bawah. Sekali lagi sebab muasalnya adalah mereka direkrut hanya mengandalkan faktor kedekatan semata, bukan karena mempunyai kapasitas untuk duduk dijabatan tersebut.
Ada seorang teman yang sekarang sudah bergolongan IV a. Dia pun merasa tidak punya arti lagi, karena penempatan kepala sekolah tidak lagi memerhatikan sebuah proses yang semestinya dilakukan. Menurut teman tadi, seharusnya yang menjadi kepala sekolah adalah orang yang pernah menjadi guru, wali kelas, kordinator dan wakasek.
Yang terjadi sebaliknya, ada kepala sekolah dengan santainya langsung menjadi pemimpin di sekolah, tanpa melewati berbagai proses tersebut. Akhirnya adalah banyak guru yang sudah tidak ingin berkarir lebih baik lagi, karena persoalan pengalaman pekerjaan dan manajemen kepemimpinan sudah tidak pernah diperhatikan lagi.
Ada juga seorang kepala sekolah yang dengan bangga mengatakan bahwa, dirinya sudah melewati berbagai proses jenjang untuk menjadi sang pemimpin disebuah sekolah. Namun ketika menduduki jabatan tersebut, sang kepala sekolah ternyata hanya mementingkan kepentingan kelompoknya dan tidak lagi memerhatikan kepentingan guru secara keseluruhan.
Salah satu contohnya adalah sang kepala sekolah tidak berlaku adil kepada semua guru. Kepala sekolah juga sering berlaku semaunya. Ketika ada kritikan dan protes dari sesama guru, sang pemimpin tadi bukannya mengambil hikmah dari berbagai protes itu, tetapi justru sebaliknya mencarikan segala cara bagaimana guru yang suka memprotes dapat keluar dari sekolah tersebut.
Contoh lainnya adalah tidak adanya budaya transparansi dalam pengelolaan keuangan di sekolah. Akhirnya para guru sering berpikiran negatif, sehingga menimbulkan ketidakpercayaan terhadap kepala sekolah itu. Untuk kasus ini, sudah banyak kepala sekolah yang harus berurusan dengan polisi.
Kepala sekolah yang bijak adalah pemimpin yang selalu dekat dengan bawahannya. Namun yang terjadi, kepala sekolah kadang bersikap menjauh dari para guru. Tidak ada upaya yang sistematis bagaimana kepala sekolah mengoptimalkan semua potensi yang ada disebuah sekolah.
Kita hanya berharap kedepan, proses perekrutan tidak lagi memerhatikan proses dan mekanisme yang saat ini terjadi. Ketika ada kepala sekolah yang mengajukan penawaran untuk menjadi pemimpin, mereka perlu dilakukan fit and proper text. Tujuannya adalah mereka yang terjaring dalam sistem ini, akan melahirkan pemimpin yang bisa diandalkan pada masa mendatang. Bukan melahirkan pemimpin karena dikatrol oleh pejabat tertentu..

Guru Favorit Menuju Profesional

Budhi A.M. Syachrun, S.Pd

Dua kata (favorit dan profesional) dari judul tulisan ini, mewakili dari nama perhelatan besar yang kembali diselenggarakan oleh salah satu media lokal di Sulsel. Setelah sukses melaksanakan empat kali kegiatan bernuansa Untukmu Guruku, tahun ini kembali diadakan perhelatan yang sama dengan memasukkan unsur profesional sebagai indikator dari kegiatan itu.
Ada sebuah dedikasi yang tinggi ditorehkan oleh panitia bahwa kegiatan tersebut merupakan salah satu upaya untuk turut mencerdaskan bangsa dan dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan. Tahun ini, proses pemilihan dimulai bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional dan 100 tahun Kebangkitan Nasional. Deretan kegiatan akan mewarnai perhelatan guru favorit dan profesional seperti, seminar dan lokakarya, penulisan karya tulis dan penulisan artikel mengenai pendidikan.
Kegiatan persembahan untuk guru ini seakan memberikan bukti nyata bahwa media tersebut sangat konsen dengan persoalan kualitas pendidikan, terutama dalam hal kapabilitas dari para guru yang ada di daerah ini. Kali ini guru yang akan berlomba, tidak hanya dituntut untuk menjadi favorit, tetapi lebih dari itu adalah mereka akan ditantang untuk menjadi guru yang profesional.
Sebenarnya masalah penilaian professional, sudah ditunjukkan oleh panitia pelaksana dalam kegiatan guru favorit versi pembaca dan siswa tahun 2007. Pada malam penganugerahan tersebut, ada tiga guru yang menjadi finalis dalam uji intelegensi. Dan yang tampil sebagai pemenang uji intelegensi adalah St Nurhidayah Ilyas, S.Pd (SD Pertiwi Makassar). Dengan gelar uji intelegensi itu, dia berhak mendapatkan juara umum karena di saat yang sama memperoleh dukungan Short Message Service (SMS) yang paling tinggi dibanding kontestan lainnya. Hadiah yang didapatkan adalah perjalanan ibadah umroh ke tanah suci.
Terlepas dari ajang itu hanya satu orang yang menjadi juara umum, setidaknya akan memberikan nilai tambah dan pengalaman berharga bagi 12 finalis guru dari tiga tingkatan. Tetapi agak sayang memang, pemilihan guru favorit tahun lalu tidak melihat nilai kualitas dari para guru, tetapi lebih condong kepada persoalan kuantitas. Memang ada penilaian dalam bentuk presentase makalah, tetapi itu dilakukan pada saat detik terakhir perhelatan . Sehingga secara umum, pembaca dan siswa tidak melihat secara langsung kompetensi dari guru yang akan didukung.
Ketika ajang yang sama dilaksanakan tahun ini, secercah harapan terpatri dibenak para guru untuk menjadi seorang favorit bukan karena dukungan SMS, tetapi mereka akan menyandang sebagai guru yang profesional dengan mengacu pada aspek penilaian dari panitia.
Oleh karena itu, kalau model dari perlombaan yang diselenggarakan tersebut dapat secara berkesinambungan dilaksanakan dengan menghadirkan bentuk variasi dan tidak semata berdasarkan dukungan SMS, kami yakin media itu akan menjadi rujukan dari para pendidik di daerah ini untuk dapat mengembangkan kemampuan dan kapasitasnya, bukan dalam bingkai guru yang hanya dikenang sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, tetapi pahlawan yang juga haus akan sebuah prestasi.

Favorit dan Profesional
Memang menjadi “seorang favorit dan profesional” dalam bidang apapun akan membutuhkan suatu loyalitas, dedikasi dan pengabdian dari gelar itu. Favorit dan profesional tidak hanya diukur besarnya dukungan SMS dan penilaian juri kepada kita, tetapi terlepas dari itu adalah bagaimana guru bisa bertindak dan menjadi teladan dari para guru lainnya. Kalau kelakuan guru akan sama saat yang bersangkutan sebelum dan sesudah menjadi “guru favorit dan profesional”, maka kita yakin gagasan mulia dari pemilihan ini sudah melenceng.
Ada keinginan tulus bahwa ketika status tersebut disandang, akan melahirkan suatu perubahan dalam diri kita. Termasuk didalamnya ada perubahan yang signifikan, terutama bagaimana menciptakan proses belajar mengajar. Jadi gelar yang didapatkan tidak sekadar menjadi bahan kelengkapan “berkas”, tetapi jauh dari itu, pemilihan guru favorit dan profesional akan melahirkan guru yang bisa berkompetisi, mempunyai kualitas dan bisa berbicara banyak bukan hanya dilingkungan sekolah, tetapi bisa berbuat yang terbaik pada ajang sejenis.
Memang pada dasarnya seorang guru dikatakan sebagai favorit dan profesional, banyak faktor yang menjadi acuan dan rujukan. Apakah yang kami sebutkan ini merupakan implementasi dari status itu, ataukah status favorit dan profesional hanya terkesan pada saat pemilihan ini, kami tidak bisa menyimpulkan tergantung dari sudut pandang pemahaman berpikir pembaca.
Dari studi yang pernah dilakukan ternyata dominan siswa menilai bahwa guru yang baik adalah (1) dapat dengan mudah mentransfer ilmu yang diberikan kepada siswa, (2) bersikap jujur dan adil kepada para siswa, (3) tidak menjadikan siswa sebagai objek penderita, (4) mempunyai wawasan luas, (5) berpenampilan rapi saat menyampaikan materi, (5) tidak kaku dan monoton dalam menyajikan bahan ajar, (6) bersikap terbuka dan menerima kritikan, (7) tidak bersikap diktator, (8) tidak pernah marah di depan siswa, (9) memiliki jiwa humoris, (10) dekat kepada siswa tetapi dalam bingkai sopan santun, (11) memiliki sejumlah kreativitas dalam proses belajar mengajar, (12) ramah dan gampang beradaptasi dan (13) guru harus memiliki loyalitas dan dedikasi.
Kalau melihat ketigabelas item diatas, pasti ada yang beranggapan bahwa masih banyak item yang tidak disebutkan. Ini hanya sekadar gambaran kepada kita bahwa menjadi yang terbaik tidak begitu mudah. Bisa saja guru hanya memiliki item pertama, tetapi tidak memiliki dan merasa menjiwai item selanjutnya. Ini tentu akan menjadi pembelajaran kepada para guru, bahwa status seorang pendidik membutuhkan suatu kerja keras.
Sekali lagi menjadi seorang guru untuk membentuk siswa yang “sebenarnya” itu tidak semudah yang dibayangkan. Kami bisa mengutip pandangan constructivism, bahwa otak seorang anak atau siswa pada dasarnya tidak seperti gelas kosong yang siap diisi dengan air informasi yang berasal dari pikiran guru. Otak anak tersebut tidak kosong. Otak anak berisi pengetahuan yang dikonstruksi anak sendiri, ketika anak berinteraksi dengan lingkungan atau peristiwa yang dialaminya.
Namun hingga sekarang, masih ada guru yang memiliki pandangan bahwa anak tidak memiliki pengetahuan atau gagasan tentang materi yang diajarkan oleh guru. Guru sering menampilkan diri sebagai sosok “mahatahu” yang tidak mungkin salah, sedangkan anak secara tidak sengaja, diperlakukan sebagai sosok “mahataktahu” yang tidak boleh salah. Hasilnya adalah kegiatan mengajar dimaknai sebagai kegiatan mengalirkan informasi dari kepala guru ke gelas kepala anak yang masih dianggap kosong.
Sedangkan menurut Dani Ronnie M dalam bukunya berjudul “The Power of Emotional & Adversity Quotient for Teachers, menguraikan bahwa guru yang mengajar tidak hanya masuk ke kelas, bertemu para pembelajar, menyuruh ini dan itu, kemudian keluar kelas dan pulang. Kalau cuma model itu menurutnya, orang tak perlu mengikuti pendidikan yang tinggi-tinggi atau training yang hebat-hebat. Semua orang bisa melakukan hal tersebut. Bahkan orang yang tahu sedikit baca tulis ditambah sedikit wawasan pun bisa melakukannya.
Pada dasarnya menurut Dani, seorang guru yang rendah hati, akan mengajar dengan santun dan sarat akan nilai-nilai etos. Hal inilah yang membuat setiap kata yang keluar dari mulutnya, setiap perilaku yang dia tunjukkan, setiap gerak geriknya, akan menjadi suatu keindahan. Kerendahan hati ini akan menautkan batin setiap individu yang ada di dalam kelas, dimana sebuah aktivitas belajar mengajar berlangsung. Hal ini akan menjadi tuntunan setiap siswa untuk mempersembahkan segala kebaikan dan kemuliaan dalam sebuah entitas manusia pembelajar.
Akhirnya, sebagai salah satu yang pernah merasakan ketatnya persaingan dari pemilihan sejenis tahun lalu, tentu berharap mereka yang terjaring dalam guru favorit dan profesional dapat menunjukkan eksistensi dirinya dimanapun berada. Menutup tulisan ini, mari kita simak ungkapan dari John Maxwell. “Jika anda terus melakukan apa yang selama ini anda lakukan, anda akan mendapatkan hasil yang sama”.