Saturday, 18 April 2009

Stop Kecurangan Ujian Nasional



Oleh: Budhi A.M. Syachrun
Guru SMAN 1 Tanralili Maros Sulsel

Terhitung mulai hari ini, Senin 20 April hingga Jumat 24 April mendatang, Ujian Nasional (UN) SMA dan sederajat dilaksanakan. Tahun ini sejumlah pihak dan berbagai kalangan khawatir akan terjadi kecurangan seperti tahun sebelumnya, jelas tidak bisa dinafikan dan bukanlah suatu isapan jempol belaka.
Tahun ini berdasarkan keterangan dari para petinggi di jajaran Depdiknas, UN kali ini terbilang sangat berat. Alasannya adalah sistem pengawasan akan dilakukan oleh para mahasiswa atau dosen negeri di sebuah daerah. Model pelaksanaan pengawasannya juga akan sedikit berbeda dibanding pelaksanaan tahun lalu.
Perbedaan yang paling jelas adalah Lembaran Jawaban Siswa (LJK) tidak lagi diserahkan kepada panitia ”khusus”, tetapi langsung diambil alih oleh tim independen yang terdiri dari mahasiswa atau dosen. Tim tersebut yang akan mengambil LJK di ruangan tempat pelaksanaan ujian. LJK yang sudah terkumpul langsung diberikan kepada pihak universitas yang telah ditunjuk oleh pemerintah untuk melakukan scanning.
Yang jadi masalah adalah apakah para tim pemantau mengerti akan tugas yang telah digariskan? Kalau sistem kerja dari sebuah tim pemantau sama dengan tahun lalu dan hanya membiarkan praktek kecurangan UN, maka saya yakin bahwa kualitas dari pelaksanaan UN tahun ini tidak menunjukkan perkembangan yang signifikan.
Di tempat saya mengabdi sekarang, berbagai informasi dan aturan baru, apapun bentuknya, terutama yang menyangkut UN langsung saya sosialisasikan kepada para guru dan siswa. Bahkan LJK yang akan ditangani langsung oleh tim dari universitas, sudah saya sampaikan kepada semua siswa kelas XII yang akan menempuh UN tahun ini.
Ketika saya ditunjuk untuk memberikan pengarahan di depan siswa Sabtu (18/04/2009), saya katakan bahwa, tahun ini merupakan momen yang sangat sulit karena adanya sistem pengawasan yang super ketat. Guru tidak mempunyai celah atau ruang untuk memberikan bantuan kepada siswa.
Pada kesempatan itu saya sampaikan bahwa yang dibutuhkan sekarang adalah kesiapan siswa untuk menghadapi UN tersebut. Siswa jangan selalu berpikiran bahwa guru akan membantu dan memberikan jawaban di dalam ruangan. Guru tidak mungkin akan mengorbankan karirnya demi sebuah prestise dan kebanggaan semu.
Saya menilai bahwa tidak adapun seorang guru yang ingin melihat siswanya gagal. Kita semua pasti bangga jika sekolah yang selama ini dijadikan sebagai tempat mengabdi, berhasil meloloskan siswanya dalam kisaran 100 persen.
Persoalannya adalah para siswa sudah terkontaminasi dengan sebuah pemikiran, bahwa gurunya akan membantu dalam UN. Apa yang terjadi, selama kurun waktu satu tahun di kelas XII, mereka dengan santai dan terkesan acuh mengikuti proses belajar mengajar.
Saya juga sampaikan bahwa yang bisa menentukan kelulusan adalah siswa sendiri. Guru sudah memberikan kemampuan terbaiknya baik dalam bentuk extra les, maupun tryout yang selalu dilaksanakan setiap pekan.
Siswa yang malas atau terkesan menyepelehkan proses belajar, jangan mengharapkan mendapatkan nilai yang maksimal. Logikanya adalah siswa yang rajin mengikuti proses belajar, tidak ada jaminan bahwa mereka dengan mudah lulus dalam UN, apatah lagi siswa yang selama ini tidak aktif, ataukah ada siswa yang hanya datang pada saat UN berlangsung.
Setelah mendengar penjelasan itu, semua siswa diam, tertunduk dan hampir semua menangis. Ternyata selama ini mereka berpikiran akan dibantu oleh gurunya dalam UN. Saat UN berlangsung hari ini, kita juga membuat aturan tegas bahwa tidak ada pihakpun yang bisa mendekati area lokasi ruangan, kecuali yang mempunyai id card panitia dan pengawas.
Pengawas ruangan juga kita sudah tekankan untuk menjadi pengawas yang sebenarnya. Jangan sampai berpredikat sebagai pengawas, tetapi justru mereka sendiri yang pantas diawasi, karena memberikan, membantu atau menyuplai jawaban kepada para siswa.
Seorang pengawas ruangan mestinya harus bersikap tegas, kalau ingin mendukung dan mengurangi praktek kecurangan UN. Caranya sangat simple, yakni tidak membiarkan guru atau pihak lain memasuki ruangan ujian, dengan dalih membawa absen pengawas atau menanyakan keadaan siswa.
Ketika ada siswa yang ingin ke toilet, mestinya pengawas harus mengikuti siswa tersebut, sehingga mereka tidak berinteraksi dengan pihak lain, terutama dalam hal mendapatkan jawaban pada secarik kertas yang telah disediakan oleh tim sukses sebuah sekolah.
Pihak kepolisian juga kita harapkan untuk bertindak sebagai pihak yang berhak mengamankan proses UN. Kita tidak ingin seperti yang terjadi beberapa tahun lalu, ada polisi yang justru membiarkan guru atau staf tata usaha masuk kedalam ruangan memberikan jawaban kepada siswa. Polisi yang profesional pasti menjalankan tugasnya sesuai dengan aturan yang ada dan akan bertindak ”cepat dan taktis”, jika ada pihak yang mencoba berbuat curang.
Polisi kita juga harapkan agar tampil mobile dan melakukan pemantauan secara berlapis, pada semua sudut-sudut ruangan. Tetapi kadang kala kita menemukan, bahwa ada polisi memang bertugas untuk mengamankan lokasi ujian, tetapi itu hanya berlangsung pada menit-menit awal pelaksanaan ujian. Setelah itu mereka berada dikantin bercengkrema dan melakukan aktivitas lain.
Kepada para tim pemantau kita harapkan juga agar bertindak secara profesional. Kalau menemukan kejanggalan dan keanehan, kita persilakan untuk membuat laporan tertulis. Seorang tim pemantau mestinya tidak berada diruangan guru. Mereka harus proaktif memantau, sehingga pelaksanaan ujian disebuah sekolah bisa berlangsung dengan penuh transparan dan tidak ternoda dengan sebuah praktek kecurangan.
Tetapi kalau kita berkaca pada pengalaman tahun-tahun sebelumnya, hampir semua sekolah melakukan praktek kecurangan UN. Model dan caranya jelas sangat berbeda. Saya mendapatkan laporan bahwa salah satu sekolah unggulan di daerah ini, justru memberikan jawaban kepada siswa dengan sangat rapi.
Sebelum siswa memasuki ruangan ujian, ternyata mereka sudah mendapatkan jawaban yang diberikan oleh guru atau tim sukses di sekolah tersebut. Pada saat UN berlangsung, pihak polisi, pengawas ruangan maupun tim pemantau, tidak menemukan praktek kecurangan karena dilakukan secara rapi dan sistematis.


Kalau komponen sekolah itu tetap melakukan praktek tersebut tahun ini, jelas kita sangat sayangkan, karena statusnya sebagai sekolah unggulan dan siswa yang berada di sekolah tersebut adalah siswa pilihan dan dari segi keintelektualan jelas sangat diandalkan.
Tulisan ini saya tujukan dan persembahkan khusus kepada teman-teman atau rekan sejawat yang masih berkutat dengan praktik kecurangan yang berlangsung hari ini. Semoga rekan guru bisa sedikit demi sedikit menghentikan praktek kecurangan tersebut.
Kalau tidak mempunyai keberanian untuk menghentikan praktek kecurangan di sekolah, tetapi minimal dimulai dari diri sendiri untuk tidak datang ke sekolah menjadi tim sukses dan memberikan jawaban kepada siswa. Memang sangat berat untuk menolak perintah atasan, tetapi lebih terbebani kalau kita semua berada dalam ranah kecurangan. Semoga.

4 comments:

Raha said...
This comment has been removed by the author.
Raha said...

halo, saya raha,,,
siswa sma kelas xii di sebuah sman di bandung.
salam kenal.

sebelumnya saya mohon maaf kalo bahasanya agak ngga sopan :)

sejujurnya, saya impress banget sama estimasi Bapak tentang UN yang saya baca sbg comment di salah satu blog. jadi, saya googling dan akhirnya nemuin blog bapak... huh senangnya...

lewat comment ini saya cuma mau share sama bapak tentang estimasi saya yang -- saya harap-- sama. saya sejujurnya sangat ngga setuju kalo UN masih ada, dan setiap siswa nampaknya berfikiran sama. saya bicara kaya gini bukan berarti saya takut ngga lulus atau apa. tapi, seperti yang bapak utarain, emang Un ini sama sekali ngga efektif mencari mana yang benar cerdas, malahan nyari yang "cerdik".

saya sedikit terharu ketika saya baca "Sekali lagi, jika mutu pendidikan hanya ditentukan oleh UN, itu seakan mengesampingkan proses pembelajaran dan pendidikan di sekolah. Proses ini tercermin dalam rapor perkembangan siswa dengan berbagai keunikan dan kecerdasan masing-masing. UN hanya mengukur kecerdasan akal atau intelektual tanpa mendeteksi kecerdasan spiritual siswa, kecerdasan emosional, kecerdasan sosial dan kecerdasan lainnya. Oleh karena itu, hasil UN tidak bisa dipakai untuk menyimpulkan mutu pendidikan kita baik atau buruk." (Laode Asrul, 2007)

saya teramat sangat setuju dengan estimasi itu...

pak... saya mau beri tanggapan dari entrian bapak di blog. tentang "stop kecurangan UN". maaf pak, tapi buat yang satu ini saya terlampau ngga setuju. kenapa? bukankah bapak sendiri yang bilang bahwa UN ini ngga adil dan mengenyampingkan proses yang 3 taun? jujur saja, saya pun dari hari pertama sampai hari keempat sekarang selalu dapet kunci jawaban baik itu dari pihak guru ataupun teman dari sekolah lain. hal ini tentu ngga saya aplikasikan ke semua pelajaran. pelajaran b.indonesia sama b.inggris yang jadi favorit saya, saya kerjakan sendiri. tapi untuk yang eksakta saya sedikit berpangku tangan sama guru :)

saya lakukan hal ini bukannya apa, tapi saya cuma berfikir untuk apa segala macam kerja keras saya selama 3 taun ke belakang kalo toh nampak sia-sia. nah, karena yang menentukan kelulusan ini cuma 5 hari yang namanya UN itu, saya pun jadi memakai "kecerdasan" 5 hari saya. teman saya yang jelas-jeals rank 1 pun sampai nangis gara-gara ngga bisa jawab soal matematik. apalagi kalo saya ngga pake. hehee

coba bayangkan pak, ini cuma sebagai conto aja. semenjak saya masuk sman ini langsung masuk OSIS dan dipercaya sbg sekretaris 1, taun berikutnya saya terpilih menjadi wakil ketua OSIS 2, belum lagi saya sering ikut beberapa seminar tentang lingkungan hidup dan HIV-AIDS. memimpin 2 ekskul (bahasa jepang dan rancang bangun) ikut berbagai macam lomba bertema jepang, dan ngga pernah kena masalah sama guru, malahan dipercaya sama beberapa guru sebagai asisten mereka. dari kelas 1, saya masuk rank 5 besar 4 kali dan 10 besar 1 kali. tapi... saya sendiri masih sanksi akan kelulusan saya nanti. kalo sistemnya masi seperti ini bukannya segala macam upaya yang saya lakukan di atas ngga berarti apa-apa?

bagaimana estimasi bapak? haruskah UN dihapuskan? atau hanya di format ulang?
maaf kalo berkesan emosional, tapi ini gaya bahasa saya :)
terimakasih tanggapannya :)

budhimenulis said...

Jujur saja...masalah kecurangan UN saya paling banyak tahu. Saya hampir tujuh tahun menjadi joki. Dan selama kurun waktu itu, saya menilai bahwa pendidikan kita tidak akan pernah maju kalau guru masih dalam ranah berpikir untuk membantu.
Akhirnya pada 2007 lalu, saya bersama dengan guru Fisika tidak memberikan bantuan kepada siswa...kendati saya tidak datang ke sekolah, tetapi sekolah mempunyai cara tersendiri sehingga mereka mendapatkan jawaban dari guru lain di sekolah yang berbeda.
Tahun ini saya ditunjuk menjadi panitia inti. Saya sudah sepakat dengan para guru yang tergabung dalam kepanitiaan dan pengawas ruangan, bahwa mulai tahun ini tidak ada lagi budaya bantu membantu siswa.
Saya bersama dengan guru lainnya sudah siap dengan segala resiko. Dan saya bisa pastikan bahwa disekolah saya kelulusannya akan anjlok.
Jujur saja...artikel yang ada di blog ini merupakan murni dari pendapat saya sebagai guru. Dan hari ini anda bisa membaca salah satu artikel saya di www.tribun-timur.com yang berjudul Meracik Formula Ujian Nasional. UN bisa diperlukan dan bisa saja diperlukan. Kalau diperlukan, maka yang dibenahi adalah proses pelaksanaannya. Kalau tidak dibutuhkan maka yang dilakukan adalah kembalikan kelulusan siswa kepada masing-masing sekolah.KTSP kan tujuannya untuk memberikan kesempatan kepada guru melakukan improvisasi dalam proses belajar mengajar. Kenapa pada saat kelulusan hanya ditentukan 6 mata pelajaran. Ini kan tidak fair...Ok salam kenal dengan anda. Maaf..di blog saya tidak banyak iklan seperti blog lainnya...yang ada adalah artikel dari saya baik yang sudah naik di media cetak maupun yang bersifat arsip. Wassalam

budhimenulis said...
This comment has been removed by the author.