Saturday, 11 April 2009

PPG PENGGANTI AKTA IV. Sekedar seragam baru?

Menyimak dua tulisan sebelumnya baik yang ditulis oleh saudara Umar Ibsal (kegelisahan calon guru) maupun oleh bapak Budhi AM. Syachrun (calon guru tak perlu gelisah) membuat penulis tertarik sekedar nimbrung dan menjadi penyemarak diskusi. Inti permasalahan yang ingin penulis komentari adalah pro dan kontra seputar PPG yang ke depan menjadi seragam baru pengganti baju lama (program Akta IV).

Ada alasan tertentu mengapa penulis mengistilahkan PPG ini dengan “Seragam Baru” pengganti program Akta IV ataupun program pendidikan sebelumnya. Bukan rahasia umum lagi bila dewasa ini pemerintah begitu suka gonta-ganti sistem atau aturan dengan aturan baru meskipun yang system yang ada sebelumnya masih layak ataupun belum maksimal untuk diesplorasi.

Kita bisa melihat bagaimana sistem kurikulum pendidikan kita diganti dengan kurikulum baru. Belum lama kita “dipaksa” untuk memakai kurikulum berbasis kompetensi kitapun kembali disodorkan system KTSP. Adaapa ini? Bukankah lazimnnya suatu perubahan yang sekonyong-konyong akan menimbukkan gejolak di pihak yang terlibat langsung didalamnya. Lihatlah bagaimana kebingungan yang melanda anak didik kita dan bahkan para pendidik sendiri (guru-guru) yang kebingungan didalam menerapkan metode baru tersebut.

Kembali kepermasalahan PPGyang sudah menjadi pro dan kontra dikalangan dunia pendidikan kita. Muncul pertanyaan dibenak penulis. Seperti apakah bentuk PPG itu yang sebenarnya. Apakah dengan seragam baru tersebut maka kualitas seorang pendidik bisa meningkat secara signifikan? Apalagi menurut bapak Budhi AM syahrun dalam tulisannya bahwa PPG maupun konsep pemberian akta IV tidak terlalu jauh berbeda. Kata beliau lagi bahwa dari segi subtansi kualitas keduanya jelas sama untuk mahasiswa yang sedang menjalankan pendidikan baik yang jalur pendidikan maupun non pendidikan. Lalu untuk diapa diganti kalau memang sama saja. Apakah ini bukan suatu tindakan mubasir saja..

Penulis semakin apatis ketika membaca tulisan beliau yang mengatakan bahwa dari segi kualitas lulusan PPG laik menyandang predikat sebagai guru professional hanya berdasar pada indikator kalau pada mahasiswa yang sudah mengantongi akta IV maka mereka tidak ditesatau diuji wawasan untuk mendapatkan sertifikat sedangkan dengan PPG mereka harus menempuh metode ini akan berhadapan dengan serangakian tes. Seperti tes potensi akademik, tes bahasa Indonesia, bahasa inggris, psokotes, wawancara dan tes pedagogik. Jadi perbedaannya hanya sebatas ada atau tidak adanya tes pendahuluan. Hemat penulis, hal tersebut tak musti memaksa kita untuk mengganti sistem Akta IV dengan sistem PPG yang pasti akan menimbulkan kebingungan. Apalagi dari segi manfaat tak begitu signifikan.

Memang tak bisa dipungkiri bahwa serangkaian-serangkaian tes itu akan menjadi tes adrenalin bagi calon mahasiswa yang akan mengikuti PPG. Tetapi lagi-lagi muncul pertanyaan untuk apa melakukan uji andrenalin kalau korelasinya terhadap peningkatan mutu calon pendidik tidak ada? Suatu hal yang sia-sia dan pemborosan belaka. Alangkah bijaknya bila kita mau dengan sadar untuk mengakui kalau system tersebut terkesan dipaksakan. Entah bila dibalik semua itu tersimpan kepentingan-kepentingan dari segelitir orang yang bersembunyi dibalik sistem PPG.

Penulis punya pikiran dan pandangan sendiri kalau sebenarnya sistem PPG dan Akta IV hanya berbeda dari nama belaka. Sistem belajar maupun sistem penilaian tidak berbeda sama sekali. Proses penggemblengan calon guru tidak berubah dari sistem sebelumnya. Bisa saja materi-materi kuliahpun masih sama dengan sistem akta IV. Semua pada intinya hanya menggembleng calon pendidik dengan teori-teori yang kadang tak bisa diaplikasikan langsung di lapangan (didepan kelas pada interaksi guru dan siswa dikelas).

PPG akan benar-benar beda bukan sekedar nama dengan program akta IV jika dalam pelaksanaannya nanti proses PPG dilakukan secara berbeda dengan Akta IV selama ini. Kalau pada Akta IV perkuliahan mahasiswa masih dominan teori dan dalam kelas maka dengan system PPG lebih dominan pada praktek langsung didepan kelas (siswa). Mahasiswa yang mengambil program PPG tak kesedar kuliah menghabiskan 18 SKS untuk PGSD dan 30 SKS untuk guru bidang studi yang interaksinya hanya mahasiswa-dosen pengasuh mata kuliah semata. Sistem lama yang masih menganut sistem hafalan teori-teori pendidikan yang penilaiannyapun hanya diberikan oleh seorang dosen mata kuliah.

PPG idealnya mempertimbangkan teknik dan metode dalam proses penyelesaikan jumlah SKS tersebut diubah seperti yang tertulis diatas (fuul time dikelas) dengan menggunakan siswa-siswa didik sebagai subjek yang nantinya memberikan penilaian. Indikator seorang mahasiswa yang menjalankan program PPG berhasil ataupun tidak terletak dari penilaian para siswa. Apakah mereka merasa nyaman dengan cara mengajar calon guru tersebut ataupun tidak.

BIODATA PENULIS:

NAMA: IRWAN

TTL: GOWA, 28 JULI 1982

PENDIDIKAN: ALUMNI UNM

TELPON: 085299698069

EMAIL: HAI_BOY82@YAHOO.COM

Saat ini penulis sebagai staf pendidik di SMP harapan bangsa dan juga pemerhati masalah pendidikan

1 comment:

haleemahfaddis said...

Casinos to add new slots to your casino list - DrmCD
The following casinos will 전라남도 출장마사지 add new slot machines to your casino list · Paysafecard 통영 출장안마 · Borgata Hotel Casino 남원 출장안마 & Spa · Golden Nugget · Tropicana 보령 출장샵 Atlantic City 의정부 출장마사지