Sunday, 3 May 2009

halo, saya raha,,,
siswa sma kelas xii di sebuah sman di bandung.
salam kenal.

sebelumnya saya mohon maaf kalo bahasanya agak ngga sopan :)

sejujurnya, saya impress banget sama estimasi Bapak tentang UN yang saya baca sbg comment di salah satu blog. jadi, saya googling dan akhirnya nemuin blog bapak... huh senangnya...

lewat comment ini saya cuma mau share sama bapak tentang estimasi saya yang -- saya harap-- sama. saya sejujurnya sangat ngga setuju kalo UN masih ada, dan setiap siswa nampaknya berfikiran sama. saya bicara kaya gini bukan berarti saya takut ngga lulus atau apa. tapi, seperti yang bapak utarain, emang Un ini sama sekali ngga efektif mencari mana yang benar cerdas, malahan nyari yang "cerdik".

saya sedikit terharu ketika saya baca "Sekali lagi, jika mutu pendidikan hanya ditentukan oleh UN, itu seakan mengesampingkan proses pembelajaran dan pendidikan di sekolah. Proses ini tercermin dalam rapor perkembangan siswa dengan berbagai keunikan dan kecerdasan masing-masing. UN hanya mengukur kecerdasan akal atau intelektual tanpa mendeteksi kecerdasan spiritual siswa, kecerdasan emosional, kecerdasan sosial dan kecerdasan lainnya. Oleh karena itu, hasil UN tidak bisa dipakai untuk menyimpulkan mutu pendidikan kita baik atau buruk." (Laode Asrul, 2007)

saya teramat sangat setuju dengan estimasi itu...

pak... saya mau beri tanggapan dari entrian bapak di blog. tentang "stop kecurangan UN". maaf pak, tapi buat yang satu ini saya terlampau ngga setuju. kenapa? bukankah bapak sendiri yang bilang bahwa UN ini ngga adil dan mengenyampingkan proses yang 3 taun? jujur saja, saya pun dari hari pertama sampai hari keempat sekarang selalu dapet kunci jawaban baik itu dari pihak guru ataupun teman dari sekolah lain. hal ini tentu ngga saya aplikasikan ke semua pelajaran. pelajaran b.indonesia sama b.inggris yang jadi favorit saya, saya kerjakan sendiri. tapi untuk yang eksakta saya sedikit berpangku tangan sama guru :)

saya lakukan hal ini bukannya apa, tapi saya cuma berfikir untuk apa segala macam kerja keras saya selama 3 taun ke belakang kalo toh nampak sia-sia. nah, karena yang menentukan kelulusan ini cuma 5 hari yang namanya UN itu, saya pun jadi memakai "kecerdasan" 5 hari saya. teman saya yang jelas-jeals rank 1 pun sampai nangis gara-gara ngga bisa jawab soal matematik. apalagi kalo saya ngga pake. hehee

coba bayangkan pak, ini cuma sebagai conto aja. semenjak saya masuk sman ini langsung masuk OSIS dan dipercaya sbg sekretaris 1, taun berikutnya saya terpilih menjadi wakil ketua OSIS 2, belum lagi saya sering ikut beberapa seminar tentang lingkungan hidup dan HIV-AIDS. memimpin 2 ekskul (bahasa jepang dan rancang bangun) ikut berbagai macam lomba bertema jepang, dan ngga pernah kena masalah sama guru, malahan dipercaya sama beberapa guru sebagai asisten mereka. dari kelas 1, saya masuk rank 5 besar 4 kali dan 10 besar 1 kali. tapi... saya sendiri masih sanksi akan kelulusan saya nanti. kalo sistemnya masi seperti ini bukannya segala macam upaya yang saya lakukan di atas ngga berarti apa-apa?

bagaimana estimasi bapak? haruskah UN dihapuskan? atau hanya di format ulang?
maaf kalo berkesan emosional, tapi ini gaya bahasa saya :)
terimakasih tanggapannya :)

TANGGAPAN:.................

Jujur saja...masalah kecurangan UN saya paling banyak tahu. Saya hampir tujuh tahun menjadi joki. Dan selama kurun waktu itu, saya menilai bahwa pendidikan kita tidak akan pernah maju kalau guru masih dalam ranah berpikir untuk membantu.
Akhirnya pada 2007 lalu, saya bersama dengan guru Fisika tidak memberikan bantuan kepada siswa...kendati saya tidak datang ke sekolah, tetapi sekolah mempunyai cara tersendiri sehingga mereka mendapatkan jawaban dari guru lain di sekolah yang berbeda.
Tahun ini saya ditunjuk menjadi panitia inti. Saya sudah sepakat dengan para guru yang tergabung dalam kepanitiaan dan pengawas ruangan, bahwa mulai tahun ini tidak ada lagi budaya bantu membantu siswa.
Saya bersama dengan guru lainnya sudah siap dengan segala resiko. Dan saya bisa pastikan bahwa disekolah saya kelulusannya akan anjlok.
Jujur saja...artikel yang ada di blog ini merupakan murni dari pendapat saya sebagai guru. Dan hari ini anda bisa membaca salah satu artikel saya di www.tribun-timur.com yang berjudul Meracik Formula Ujian Nasional. UN bisa diperlukan dan bisa saja diperlukan. Kalau diperlukan, maka yang dibenahi adalah proses pelaksanaannya. Kalau tidak dibutuhkan maka yang dilakukan adalah kembalikan kelulusan siswa kepada masing-masing sekolah.KTSP kan tujuannya untuk memberikan kesempatan kepada guru melakukan improvisasi dalam proses belajar mengajar. Kenapa pada saat kelulusan hanya ditentukan 6 mata pelajaran. Ini kan tidak fair...Ok salam kenal dengan anda. Maaf..di blog saya tidak banyak iklan seperti blog lainnya...yang ada adalah artikel dari saya baik yang sudah naik di media cetak maupun yang bersifat arsip. Wassalam